Dari Santri Untuk Negri | Nderek Dawuh Abah Kyai

Aib – Oleh Kang Pur

28

Aib Hampir setiap manusia memiliki sisi yang dia pun malu untuk mengingat, apalagi di ketahui oleh orang lain, sangat mustahil ketika manusia tidak mempunyai sisi itu, hanya saja pasti akan berbeda beda konteks dan kejadiannya.

Hal demikian tidak akan pernah terlupakan seumur hidupnya, dan akan menjadi sisi yang sangat sulit untuk diterima sebagai kenyataan.

Sayangnya sisi yang dinamai aib itu kerapkali dijadikan sebagai senjata untuk menjatuhkan, membully, mencemooh, padahal belum tentu orang yang menjatuhkan, membully atau mencemooh tidak punya sisi aibnya sendiri.

Sangat kurang tepat jika semua manusia tidak sadar akan sisi aibnya masing masing, namun masih mencemooh satu sama lain, sama halnya mereka saling lempar melempar tai, dan akan menghasilkan baunya masing-masing, karna mencemooh sisi yang tidak ingin diungkap milik orang lain sama saja membuka aib sendiri.

Tidak ada satupun alasan untuk saling mencemooh aib orang lain, seandainya alasannya adalah untuk membuatnya jera, itu tidak akan merubah apapun, malah akan membuat manusia itu terpuruk sampai sampai dia sudah tidak punya alasan untuk bangkit dari aibnya sendiri, sehingga akan membuat keputusbasaan.

Keputus asaan sama halnya tidak memiliki harapan, tidak memiliki harapan sama halnya menginginkan kematian.

Dengan Aib, Belajar dan Bangkit

Seharusnya setiap manusia harus sibuk bangkit sendiri-sendiri dari aibnya tersebut, tanpa harus mempedulikan aib orang lain.

Waktu tetaplah waktu tidak akan bisa berputar mundur, waktu akan tetap maju tanpa mempedulikan apapun, itulah alasan kenapa harus bangkit dan jangan sampai terpuruk dalam penyesalan aib itu.

Hidup akan tetap berlanjut, jika waktu hanya digunakan untuk menyesali, akan ada penyesalan yang lebih ketika hidup berahir.

Jadikan aib itu sebagai pembelajaran untuk melanjutkan kehidupan yang sedang menunggumu untuk bangkit kembali.

Aib sudah sangat menyusahkan jadi, jangan tambah kesusahan itu dengan saling mengumbarnya. “Sebesar apapun kemulyaanmu dalam pandangan orang lain, belum tentu kau bisa memulyakan dirimu karna aibmu sendiri”.

Sudah sangatlah cukup hal itu menjadi pembelajaran untuk tidak mengulanginya lagi. Tidak perlu dengan cara saling mengumbar dan saling mencemooh.

Baca Juga : Anekdot Kehidupan Oleh kang Pur

You might also like

Leave A Reply

Your email address will not be published.