Dari Santri Untuk Negri | Nderek Dawuh Abah Kyai

Kirani dan Wacana yang Tak Kunjung Usai

255
  • Oleh Aji Muhammad Iqbal

Kirani dan Wacana -Panggil saja Kirani, ia seorang anak desa yang baru lulus sekolah SLTA pada minggu kemarin. Kirani adalah sebagian perempuan yang mengalami masa-masa kebingungan setelah menyelesaikan sekolah.

Dalam kebingungan itu, ia memiliki keinginan kuat untuk bekerja dan menikah. Namun sayangnya, keinginan Kirani yang muncul dalam kebingungan itu, sirna oleh nasihat neneknya, nek Fatma namanya.

Neneknya selalu menyuruh Kirani untuk melanjutkan kuliah, mungkin itu tanda kepedulian nek Fatma terhadap cucunya, yang telah mendidik dan mengasuh Kirani sejak kecil. Perjalanan hidup Kirani memang malang. Dalam usia satu tahun, ia harus ditinggalkan oleh kedua orang tuanya yang telah wafat.

Dalam kebingungan itu, ia berandai-andai untuk bertemu kedua orang tuanya yang telah meninggal. Ia ingin mengungkapkan segala keluh kesahnya pada ibu, seperti halnya teman-temannya yang masih memiliki kedua orang tua. Meski demikian, ia tidak bisa menolak takdir. Ia meyakini hidup bersama dengan nenek sejak kecil merupakan jalan takdir yang perlu disyukuri.

Nenek Fatma adalah seorang wanita yang cerdas, tegar, peduli dan pemberani. Semasa mudanya, nek Fatma telah menghabiskan banyak waktu di dunia pendidikan, konon iapun pernah menjadi seorang aktivis perempuan. Tak aneh memang jika kecerdasannya dan keberaniannya memang telah dilatih dan diasah sejak dulu.

Kepeduliannya terhadap kaum lemah pun masih menancap kuat dalam hati nuraninya, misalnya saja ketika ada faqir miskin lewat, ia selalu ingin untuk sedekah memberi sebagian rejekinya, atau saat melihat berita di TV tentang penggusuran, ia selalu heboh mengomentari para aparat yang menggusur paksa.

Kini, di masa-masa tuanya, adakalanya ia sering menjadi pendengar setia dan pemberi nasihat pada segala keluh kesah Kirani.

Kirani dan Wacana Nikah-Kerja

Suatu hari, Kirani mencoba mencurhatkan keluh kesahnya pada nenek. Pagi itu, nek Fatma sedang menjalankan rutintasnya di belakang rumah. Duduk dekat kolam ikan, sambil menikmati teh dan membaca koran, menganalisis berita issu terkini. Maklum, ia orang berpendidikan juga pernah menjadi aktivis perempuan.

 “Eh, Kirani cucuku, selamat pagi,” kata nek Fatma, menyapa Kirani yang berjalan dari kamarnya menghampiri tempat duduk nek Fatma.

“Selamat pagi juga, nek,” jawab Kirani.

Nek Fatma perlahan melihat raut wajah Kirani, sepertinya ia telah mengetahui maksud kedatangan Kirani menghampiri nek Fatma.

“Ada apa Kirani? sepertinya kamu sedang kebingungan,” tanya nenek sambil melanjutkan baca koran.

“hmmmm anu nek,” jawab Kirani sambil kebingungan harus mulai dari mana ia mencurhatkan keluh kesahnya.

 “nek, kini Kirani telah beranjak dewasa, kirani sudah lulus sekolah SLTA, sekarang aku bingung, aku ingin bekerja karena peluang bekerja di pabrik atau di perusahaan manapun sepertinya sudah banyak. Dan disana, jika peluang jodohku dekat, aku ingin sekali menikah, biar tidak disebut perawan tua.”

Baca Juga : Pro Kontra Kaderisasi Biologis, Konkow Bareng Mantu

“Tapi, nenek selalu menyuruhku harus kuliah, mengapa nek aku harus sekolah tinggi-tinggi, toh ujung-ujungnya aku berada di bawah kendali suami kalau sudah menikah. Yang kehidupanya pasti mengurus anak, melayani suami dan memenuhi kebutuhan dapur, pasti berputar seperti itu,”ungkap Kirani mencoba memaparkan keluh kesahnya.

Mendengar perkataan Kirani, nek Fatma berhenti membaca koran dan tersenyum mendengar ocehan cucunya. Ia menyimpan koran di meja, sambil meminum teh yang masih hangat, seraya menerima keluh kesah Kirani.

“Begini Kirani, seorang perempuan menjalani kehidupan tidak semudah itu. Begitu kerasnya dunia pekerjaan jika kamu tidak memiiki pengetahuan yang cukup. Apalagi di dunia pabrik atau perusahaan. Teman nenek saja dulu menjadi korban para bos besar”

“Coba kamu bayangkan, teman nenek yang sedang hamil, ia tidak memiliki waktu cuti yang cukup. Apakah itu tidak mengerikan? Ditambah dengan pernikahan dini”

“apa kamu sudah memikirkan bagaimana laki-laki yang akan kamu nikahi, apakah ia menghargai terhadap posisi kamu sebagai perempuan, atau bertindak sekehendak hati? Pikirkan dan pertimbangkan kembali Kirani, apa kata nenek!” papar nek Fatma.

Kirani terdiam membisu, perkataan nek Fatma perlahan mulai merubah cara pandang Kirani. Kirani berdiri dari tempat duduknya dan mengambil pakan ikan. Sambil memberi makan ikan, Kirani mencoba bertanya kembali pada nek Fatma. Keinginannya untuk bekerja dan menikah masih terngiang di kepalanya.

“lalu aku harus bagaimana nek? Aku masih tetap ingin bekerja dan menikah,” kata Kirani.

Nek Fatwa dan Wacana Perempuan Merdeka

“Kirani, kamu tahu mengapa Tuhan menciptakan perempuan?” Tanya nek Fatma.

“Tahu nek, Tuhan menciptakan perempuan untuk menemani laki-laki agar berkembang biak dan umat manusia semakin banyak,” jawab Kirani sambil kembali ke tempat duduknya.

“Hahahaha ada-ada aja jawaban cucuku,” nek fatma tertawa mendengar jawaban Kirani

Wajah kirani memerah, ia malu ditertawakan neneknya. Rauh wajahnya berubah, mata dan dahinya mengkerut seperti semakin bingung ketika nek Fatma menertawakannya. Ia berkata dalam hatinya seperti ada yang salah saat ia menjawab.

“apakah aku salah lagi nek?” tanya Kirani.

“Enggak Kirani, kamu sudah benar, dan nenek apresiasi kamu telah berani menjawab dengan keyakinanmu. Begini kirani, Tuhan menciptakan perempuan tidak hanya untuk menyimpan air mani, lalu hamil dan melahirkan”

“Andaikata tuhan menciptakan perempuan kegunaannya seperti itu, berarti Tuhan tidak adil. Nenek yakin, perempuan lahir bukan hanya untuk memenuhi hasrat seksual saja” kata nek Fatma, dengan nada agak lantang.

“Lalu bagaimana nek, kalau perempuan tidak hanya memenuh hasrat seksual saja?” tanya Kirani sambil merasa aneh

“Kamu tidak boleh memposisikan perempuan sebagai kaum yang lemah, selalu di bawah, kaum yang terpinggirkan dan tidak berhak berekspresi dalam ruang publik,” papar nek Fatma.

Maksudnya berekspresi bagaimana nek? Nyanyi-nyanyi, jalan-jalan gituh ke Mall seperti perempuan-perempuan di Televisi? Tanyaku ngeyel.

“Berekspresi itu, maksud nenek, perempuan memiliki hak berpendidikan, misalnya. Sekarang sudah serba gampang untuk sekolah bahkan kuliah. Beda dengan zaman dahulu sebelum merdeka yang serba kesusahan. Itulah mengapa nenek menyuruh kamu kuliah.”

Amanah Ibu Untukmu

“Selain itu, nenek memegan amanah ibumu, dia sebelum meninggal pernah memiliki keinginan, kalau anaknya sudah besar, ia ingin anaknya belajar hingga jadi sarjana. Nenek tak ingin kamu hidup dirundung duka. Sebab suka duka yang dialami, pangkalnya adalah ketidak tahuan”

“Kadangkala hati mengikuti kata akal. Jika tidak serba tahu, maka hati akan mengambil kesimpulan yang keliru. Perlu diketahui kirani, kebodohan adalah asal mula kesengsaraan,” Nek Fatma menjelaskan pada Kirani.

Kirani agak kaget mendengar paparan Neneknya. Kebingungannya agak sedikit luntur dengan penjelasan yang begitu menusuk ulu hati Kirani.

“Kalau kebodohan adalah asal mula kesengsaraan, berarti dengan berpendidikan apakah menjamin mendapat pekerjaan, nek?” Kirani bertanya lagi.

“Kirani, kamu harus berangkat pada niat yang benar. Niatkan kamu berpendidikan agar kamu memiliki pengetahuan yang dapat bermanfaat untuk masyarakat sekitar. Kurang tepat jika kamu berpendidikan berniat untuk mendapat pekerjaan apalagi memiliki pangkat dan jabatan”

“Jalani saja prosesnya dalam belajar, soal rejeki yakinkanlah pada Tuhan, toh Tuhan maha segalanya,” tandas nenek, sedikit mulai kesal dengan pertanyaan-pertanyaan cucunya.

Fikiran Kolot yang Membelenggu

Namun kirani belum masih saja belum puas denga apa yang di sampaikan neneknya, ia masih terus bertanya dan bertanya.

“Tapi nek, mengapa nenek tidak berpikir seperti para orang tua temanku di kampung sebelah. Orang tuanya lebih memilih anak perempuannya untuk bekerja, dan tak lama dari itu, anaknya langsung menikah”

“bukankah hidup bisa disederhanakan seperti itu nek? Mengapa tidak sekarang saja aku bekerja biar banyak uang dan menikah,” Kirani selalu bertanya ngeyel, karena keinginannya tidak terpenuhi.

“Tidak kirani, nenek belum merestui kamu untuk bekerja. Nenek ingin kamu belajar dahulu. Nenek tidak ingin amanat mulia ibumu, nenek sepelekan. Kamu jangan terbawa tradisi yang keliru”

“Di pelosok Desa, negeri kita, anak perempuan yang putus belajar, lalu bekerja dan kawin muda masih biasa dilakukan sampai hari ini, apalagi kalau orang tuanya kurang mampu membiayai, menikah adalah jalan keluar. Walaupun kadang kala pernikahannya tak kunjung lama.”

“tapi untuk keluarganya anak perempuan yang menjadi janda dianggap lebih baik ketimbang menjadi perawan tua. Urusan dapur, sumur dan kasur adalah peribahasa yang telah melekat pada bangsa ini. Peribahasa tersebut telah menguasai pola berpikir masyarakat patriarkhi. Jelaskan, Kirani?” papar nenek.

Baca Juga : Sekolah dan Harapan dalam Pendidikan

“Maksudnya patriarkhi bagaimana nek? Kok ada bahasa patriarkhi. Patriarkhi itu tukang apa nek?,” kata Kirani.

“Kamu belum kuliah sih, jadi gak ngerti patriarki itu apa. Tapi gapapa, nenek kasih tau biar rasa penasaranmu untuk kuliah semakin yakin. Sederhananya, patriarkhi adalah sistem sosial yang menempatkan laki-laki sebagai kuasa utama”, nek Fatma menjelaskan dengan semangat.

“Masa gara-gara kamu perempuan, kamu tidak memiliki hasrat untuk kuliah, jangan kalah sama saudaramu, Arman. Dia semangat sekali kuliah. Setidaknya kalau kamu kuliah, kamu akan mengerti bagaimana sosok perempuan dihargai”

“Kakekmu dulu begitu, ia sosok lelaki yang selalu menghargai nenek. Ia tidak pernah mengekang nenek untuk hidup bermasyarakat,” ungkap Nek Fatma.

“oh begitu ya Nek,” Kirani mulai sadar, keinginan kuatnya sedikit demi sedikit luntur dengan penjelasan neneknya.

“iya Kirani,” Nek Fatma pun mulai mengira bahwa apa yang dipaparkannya agak ampuh merubah cara berpikir cucunya. Ia terus menjelaskan bahwa cucunya harus kuliah.

Jadilah Kartini Kecil

“Hmmmm, terus kesimpulannya aku harus bagaimana nek?” tanya Kirani, mengharap solusi terbaik pada nek Fatma.

“yaa kamu harus kuliah cu,” jawab nenek, tersenyum.

Nek Fatma melanjutkan kembali penjelasannya, mengapa ia menyuruh cucunya kuliah. Dalam penjelasan selanjutnya, ia lebih meyakinkan ruang bathin Kirani, agar teguh pendirian untuk melanjutkan kuliah.

Nek Fatma mulai menyentuh tokoh perempuan, Kartini. Harapannya, cucunya dapat mempelajari semangat tokoh perempuan tersebut.

“Kirani, kamu tau Ibu Kartini?” tanya nek Fatma.

“Tau nek, beliau adalah sosok tokoh perempuan,” jawab Kirani.

“Memang pintar cucuku ini. Begini Kirani, kamu perlu belajar meneladani sosok Kartini. Beliau merasakan kekhawatiran jika masyarakat pribumi tidak berpendidikan. Kartini bahkan menjawab kekhawatiran itu dengan mendirikan sekolah khusus perempuan”

“Artinya, kamu harus menjadi Kartini-kartini muda zaman sekarang, yang memiliki semangat pendidikan dan memperjuangkan kesetaraan,”papar Nek Fatma.

Baca Juga : Soal Kaderisasi Biologis, Ini Tanggapan Ketua Kopri

Kirani menunduk dan berpikir sosok tokoh perempuan itu. Dalam hatinya, ia tak ingin kalah oleh Ibu Kartini yang memiliki semangat hidup dari kondisi yang tidak serba mudah saat ini. Sambil menarik napas, Kirani berkata pada nenek.

“huuaahhh, ya sudah nek, aku menerima nasihat nenek untuk melanjutkan kuliah. Biarlah sirna keinginan gelapku dan pergi jauh-jauh. Semoga ini menjadi yang terbaik untuk masa depanku, nek,” Kirani menyimpulkan pada neneknya.

“nah begitu dong, itu baru cucu nenek,” kata nek Fatma sambil memegang pundak Kirani.

“hehehe iya nek, terimakasih atas nasihatnya nek, aku bangga punya nenek yang cerdas dan bijaksana seperti Nenek Fatma. Ya sudah nek, aku mau mandi dulu dan bersiap untuk daftar kuliah,” kata Kirani dengan riang gembira.

“ya sudah, sana mandi dulu, Kirani,” pungkas Nek Fatma.

Sambil berjalan menuju kamarnya, ia merasa bangga dengan kodratnya sebagai perempuan. Sebab, ia dapat memahami dan belajar arti kesetaraan sebagai manusia. Sebagai anak zaman, ia tidak ingin mati sebagai korban dari peradaban manusia modern. Azi Banjar, 18 Januari 2018.

Created by www.ctosantrix.com
You might also like

Leave A Reply

Your email address will not be published.