Dari Santri Untuk Negri | Nderek Dawuh Abah Kyai

KYAIKU SANG PEJUANG

48

Kyaiku Sang Pejuang – Pada suatu pagi dalam kegiatan tahunan memperingati hari pahlawan, beberapa orang mahasiswa berkumpul di satu persinggahan terakhir yang berada di pondok pesantren yang telah menjadi saksi perjuangan bangsa Indonesia dan saksi atas perjuangan seorang yang tengah berbaring dalam persinggahan terakhir tersebut.

Disitulah Simbah Abdurrohim sang pendiri Pondok Pesantren Miftahul Huda Al-Azhar berbaring, bersama istri dan anak-anaknya yang telah lebih dahulu meninggalkan bumi dan beranjak ke alam selanjutnya, kisah perjuangan bilau telah menjadi pengetahuan yang tak terlupakan bagi para santri dan masyarakat sekitar pondok, karena jasa-jasa yang terpahat didalamnya.

Salahsatu cucu dari beliau berada di tengah-tengah mahasiswa yang sedang berkumpul tersebut, ia adalah Ahmad Bananu Syafiq atau akrab di panggil Gus Syafiq. “Mbah itu dulu mondok di banyak pondok pesantren, untuk menuntut ilmu”, Gus Syafik mulai bercerita bersama mahasiswa.

“Pada awal Mbah Abdurrohimn pindah ke sini, dulu santrinya baru sedikit”. “baru setelah simbah menetap dan ngulang di sini, santri bertambah signifikan”, dalam benak saya berfikir,” bagaimana bisa jumlah santri naik signifikan dengan waktu yang singkat”, setelah mengambil nafas, seperti memberi jeda pada cerita ia pun melanjutkan.

“konsep yang digunakan simbah dalam mengaji dan memberikan pembekalan-pembekalan lain kepada santri dan masyarakat sekitar sampai sekarang masih membuat saya salut” Lanjutnya, kemudian sambil agak mengeraskan suaranya, seakan apa yang dikatakan harus benar-benar didengarkan oleh mahasiswa, ia melanjutkan.

“dalam mengaji, ketika baru beberapa bulan, santri baru berjumlah ratusan, dan beliau mengajar sendiri, setiap harinya simbah mengajar dari mulai tingkatan bawah sampai atas sendiri”, “biasanya pagi hari simbah bersama para santri ke sawah atau ke kebun, di situ para santri di ajarkan cara bertani sampai mereka bisa”.

Baca Juga : Mahasiswa Haus Akan Ilmu

Pada sekitar tahun sekitar tahun 1960-an, teknik bertani yang baik juga pengajaran agama sangat dibutuhkan, sehubungan dengan belum banyak masyarakat yang mampu mengakses pendidikan formal, pondok pesantren menjadi pilihan untuk masyarakat, dan ketika terdapat pembelajaran lain yang bisa membantu kehidupan, menjadi satu nilai tambah yang sangat baik, fikir saya.

“selain itu, dalam hal bersosial beliau sangat baik” lanjutnya, “salah satu buktinya, saya dapat cerita dari santri angkatan pertama, katanya kalau ada tahlilan di rumah warga simbah selalu diminta untuk memimpin, bahkan pernah ada yang nunggu sampai jam 1 malam, karena saking banyaknya yang meminta”, kemudian, sambil menunjukan rasa heran Gus Syafiq mengatakan.

“padaha masih banyak Kyai-kyai di daerah sini waktu itu, atau minimalnya yang bisa memimpin tahlil, tapi tetap mereka ingin di pimpin oleh simbah, merekan menunggu sampai jam 1 malam bersama warga sekitar, termasuk kyai di daerah tersebut ikut menunggu”. kemudian ia menambahkan “selain itu, simbah juga sering mengisi di pengajian-pengajian di daerah sekitar, juga selalu ramai”.

Baca Juga : Ziarah Makam Pahlawan

Dalam fikiran saya tergambar sesosok manusia yang tidak kenal lelah, sepintas tergambar sesosok guru yang mengayomi  dan menyayangi muridnya, sepintas tergambar sesosok petani yang dengan ikhlas menghidupi banyak manusia tanpa kenal lelah. “Ketia saya masih berumur sekitar 5 tahun, saya sudah mulai ingat beliau sudah sepuh dan sudah tidak bisa jalan”,tambahnya.

“beliau menggunakan kursi roda, tapi meskipun beliau sudah menggunakan kursi roda, beliau tidak penah meninggalkan pengajian, kalua ada undangan beliau selalu berusaha hadir, di antar sama santrinya”. Sungguh sosok pejuang tanpa tanda jasa, pekerjaan yang jarang manusia berani menanggunnya, dilakukan dengan ikhlas dan tanpa pamrih, benak saya berusaha menggambarkan sosok agungnya.

Kyaiku itu yang terucap secara reflek dalam hati saya, dan saya yakin kata itu akan terucap dalam hati para santri ketika mendengar kisah perjuangan beliau. Setelah itu kegiatan dilanjutkan dengan tawasul serta tahlil bersama dan ziarah kubur ke makom-makom wali banjar dan makom pahlawan Kota Banjar. (Rizki/SquadCTOX)

You might also like
1 Comment
  1. […] Baca Juga : Kyaiku Sang Penjuang […]

Leave A Reply

Your email address will not be published.