Dari Santri Untuk Negri | Nderek Dawuh Abah Kyai

Moncong Revolusi Jadi Penjilat Ahli

7

Moncong revolusi.. Revolusi, revolusi, revolusi, teriaknya dihadapan gedung dewan, perubahan.. perubahan.. perubahan.. harapan masa aksi di depan gedung petinggi-petinggi negara.

Benarkah semua itu masih murni memperjuangkan keadilan dan kesejahteraan, jika memang benar, kenapa banyak sekali isu strategis yang tidak diperjuangkan.

Isu pertambangan batu bara pada masa pilpres 2019 misalnya, hasil analisis yang baik menyebar dan viral, tapi bagaimana respon dari orang-orang yang biasanya berdemonstrasi, nihil.

Seperti analisis yang menyebar waktu itu hanya sebatas analisis buta yang tidak berdasar dan memiliki arti sama sekali, bahkan seperti lebih berguna propaganda KPU untuk tidak GOLPUT.

Kenapa orang-orang yang biasa berdemonstrasi pada isu-isu kecil yang terkesan di besar-besarkan tidak bersuara sama sekali, padahal dengan tidak berdemonstrasi pun, dengan gerakan perlawanan yang sifatnya lebih cerdas namun nyata, dengan menindaklanjuti isu tersebut akan menjadi gebrakan besar sebagai awal perubahan.

Jadi, apa sebenarnya revolusi, perubahan, kesejahteraan dan keadilan yang biasanya diteriakan, apa sebenarnya semua ini kalau bukan aksi jilat-menjilat.

Saat Moncong Revolusi Jadi Penjilat Ahli

Inilah yang lebih memilukan, adalah saat setelah moncong revolusi padam, lahirlah penjilat-penjilat ulung, menjilati kaki penguasa dan berharap menjadi penguasa selanjutnya.

Seperti dijelaskan Jeffrey A. Western dalam bukunya yang berjudul Oligarki, yang menjelaskan betapa demonstrasi dan pemikiran revolusioner dirawat oleh para penguasa di negara Demokrasi.

Mereka dirawat sebagai senjata paling efektif untuk meluluskan segala keinginan para penguasa, pengalihan issue, pelulusan kebijakan, perebutan kekuasaan, untuk menaikan elektabilitas dan lain sebagainya.

Hak untuk mengemukakan pendapat adalah celah yang dimanfaatkan oleh para penguasa melalui para demonstran dan orang-orang yang berfikir revolusioner, itulah kenapa isu-siu kecil yang terkesan dibesar-besarkan lebih banyak diperjuangkan daripada isu-isu yang lebih essensial.

Ya, yang muncul di depan umum adalah isu-isu sesuai dengan kebutuhan yang memiliki kepentingan, bukan isu-isu utama yang jika dimunculkan dapat mengganggu kedudukan penguasa yang sebenarnya itu-itu saja.

Penguasa bukan posisi atau oposisi, itu hanya perebutan legitimasi, tapi kelompok mereka-mereka itulah penguasa, toh faktanya kekuasaan negara dan ekonomi hanya berputar pada lingkaran mereka.

Dalam bukunya Jeffrey juga menjelaskan bahwa para penguasa sudah menyadari akan kebutuhan dukungan kekuasaan dari kalangan intelektual, dari kesadaran inilah kaderisasi jilat-jilat lahir.

Melalui kaderisasi jilat-jilat terlahir para propagandis ulung yang mempropagandakan perjuangan, perjuangan untuk mempertahankan kekuasaan majikannya.

Akhirnya Hanya Moncong

Realistis, Bahasa yang paling dibenarkan para pejuang atau yang mengaku berjuang ketika berhadapan dengan kekuatan kebutuhan, dengan kekuatan keadaan yang tidak memiliki apa-apa.

Moncong revolusioner meneriakan perubahan, keadilan, kesejahteraan dihadapan pemerintah, terlepas legisatif, eksekutif ataupun yudikatif, satu arah saja kepada pemerintah.

Kenapa hanya kepada pemerintah, kenapa tidak diteriakan kepada semua orang, bukankah kesejahteraan, keadilan dan yang lainnya harus diperjuangkan bersama di negara demokrasi.

Bahkan revolusi sendiri, jika mengambil dari buku masa aksi karya Tan Malaka, tidak bisa muncul karena hasutan ataupun propaganda, tapi revolusi terjadi karena kesadaran bersama.

Oleh karena itu, perjuangan-perjuangan yang terlihat revolusioner pada zaman sekarang tidak lebih sebatas moncong saja, karena perjuangan itu tidak pada esensinya tapi terlepas sangat jauh.

Pada akhirnya semua takut dihadapkan keadaan, kelaparan, dan kebutuhan lainnya. Betapa perjuangan selesai bersamaan dengan wisuda, demonstrasi padam bersama janji diterimanya lamaran kerja.

Bukan Berarti Perjuangan dan Para Pejuang Telah Musnah

Tetap tidak bisa dihilangkan, orang-orang yang mempunyai spirit perjuangan yang murni masihlah ada, meskipun mereka tidak terlihat ataupun yang hanya sayup-sayup.

Bukan berarti pula perjuangan yang benar-benar essensial sudah tidak ada di muka bumi, harus tetap diyakini semua itu harus ada, setidaknya di hati pembaca yang budiman.

You might also like

Leave A Reply

Your email address will not be published.