Dari Santri Untuk Negri | Nderek Dawuh Abah Kyai

Pawang Hujan

28

Oleh Awwal Muzakki Alkautsar

Sekira empat atau lima tahun lampau, bapak menelpon. Beliau cerita bahwa padi miliknya telah lunas dipanen. Alhamdulilah ndak kena hujan, jadi biaya operasional ndak membengkak.

Perlu dimengerti bahwa bagi para petani hujan disaat panen adalah mini bencana. Hujan disaat panen sama artinya belaka dengan harus mengeluarkan biaya ekstra. Biaya umbal. (semacam angkut manual dari sawah ke jalan raya muahalnya luar biasa).

Nah, alhamdulilah kata bapak, panen berjalan lancar dan tak ada masalah. Langit cerah dan tentu dengan angin khas kampong kami  nggebesnya luar biasa. Panas. Panas.panaas sekali.

Mendengar cerita bapak, saya jadi kepikiran sama bencana asap dan kekeringan di negri ini. Asap tak kunjung lenyap, panas mendesau dicampur panas. Oh sungguh sebuah racikan cobaan yang pas.

Di banyak tempat, manusia berkumpul untuk melakukan salat istisqa, meminta tuhan menurunkan hujan.

Bersabtu sabtu yang lalu saya membaca sebuah koran harian di bogor. Di halaman muka tertulis “ minta hujan datang badai” saya diam diam sungguh terharu membaca berita itu.

Ini bukan melankoli. Ini hanya semacam kesadaran diam diam bahwa betapa sering kita mendikte keinginan Tuhan. Setengah mati menginginkan hujan, setelah hujan turun disertai angin sedikit berdendang, langsung saja kita suudzon dan marah pada-Nya.

Saya justeru teringat pada sastrawan terkemuka jebolan prancis dia mengatakan bahwa ada dua macam pola pikir yang dianut oleh manusia mutakhir ini. Pertama, pola pikir epistemik yang kedua, pola pikir hermeunetik.

Pola pikir epistemik adalah satu pola pikir yang secara kronologis diawali oleh penelitian, penelitian, penelitian baru kemudian ditarik menjadi sebuah kesimpulan. Biasanya yang begini ini orang barat. Jepang pun punya gaya dan cara berpikir seperti ini

Adapun pola pikir hermeunetik adalah sebuah satu cara berpikir yang didasari dan di alas kaki oleh intuisi.ia mengandalkan mata hati dan kejernihan kalbu.

Pada pola pikir pertama produknya jelas. Hasil ribuan ilmuwan. Sementara Pada pola pikir yang kedua sering kita kenal dengan sebutan “Orang pintar”.

Di Indonesia “ orang pintar” bukanlah mereka yang telah mengenyam bangku kuliah, melainkan mereka yang menggunakan linuwih. Punya mata batin, dan tahu sebelum kejadian (weruh sak durunge winarah).

Nah, pawang hujan adalah salah satu contoh orang pintar yang lahir dari masyarakat yang punya tradisi berpikir hermeunetik. Sebab saya yakin cara kerja pawang hujan sampai kapanpun tidak bisa dikuak secara ilmiah. Nah, zaman sudah serba maju. Android dan ios sudah begitu canggihnya sampai dilengkapi dengan ramalan cuaca. Tapi android dan ios tak punya intusi. sebagaimana pawang hujan. Tentu rapuh dan mesti kalah dibandingkan dengan pawang hujan.

“Mari berbagi Ungkapan, Sajak, Puisi, Syair, Qoutes, & Cerita, Ungkapkan “SajakManisSantri” mu, bakalan diramaikan oleh squad @ctosantrix . Yang ingin direpost silakan tag akun kami @ctosantrix atau kirim tulisan kalian via DM / WA di Bio dan jangan di privat akunya. Salam Manis Santri ? “

admin ctosantrix

Follow & Subcribe Channel YouTube Instagram | @ctosantrix

#ctosantrix#pmiindonesia#pmiijabar#cahpondok#citangkolo#alasantri#santrikeren#pesantren#kiaiku#santri#santriwati#ayomondok#tetepsantri#aisnusantara#galerisantri#aboutpesantren#santriindonesia#pesantrenstory#sabdaperubahan#santriputrihits#nahdlatululama#kajiannusantara#islamsantun#aswajanucenter#ikhwanrembang#ikhwansurabaya#kmnupusat#mahasiswaSTAIMA#ppmac#anonymousantri

You might also like

Leave A Reply

Your email address will not be published.