Dari Santri Untuk Negri | Nderek Dawuh Abah Kyai

Perempuan – Oleh Kang Pur

30

Perempuan, apa yang kalian pikirkan ketika mendengar kata itu, semua orang berbeda-beda dalam menafsirkan arti, makna dari kata tersebut.

Ada yang memaknai kecantikan, keanggunan, keindahan, lemah-lembut, kesabaran, ketelatenan, kelemahan dan sebagainya.

Kenapa tulisan ini diberi judul perempuan bukan wanita?, ini memiliki filosofis tersendiri dalam segi makna Per-empu-an dan wanita “wani di tata” (dalam Bahasa jawa).

Pandangan tentang makna tersebut lebih memperlihatkan bahwa perempuan adalah bahasa yang lebih sopan dari bahasa wanita.

Bahasa per-empu-an lebih memperlihatkan integritas, dan juga kemandirian, sementara wanita “wani di tata” menggambarkan ketergantungan dan juga pengekangan.

“Belajarlah kesabaran dari ibumu dan belajarlah ketangguhan dari bapakmu”, kata itu sempat menyelinap dalam pikiran dan menimbulkan pertanyaan “kenapa perempuan itu identik dengan kesabaran?”.

Lalu setelah itu timbul kembali pertanyaan “kenapa ada emansipasi? Apa yang menyebabkan harus ada seruan tentang emansipasi?”.

Perempuan di Masa Silam

Kita akan memulainya dari sejarah peradaban Indonesia pada masa majapahit, di mana dalam sejarah tersebut peradaban sudah banyak mengalami kemunduran.

Banyak hal yang menyebabkan peradaban mengalami kemunduran, dan yang berdampak paling besar adalah akibat perang saudara antara raja.

Mulai dari Raja di istana barat majapahit, wikramawardana melawan kerajaan majapahit timur bhre wirabhumi yang di namakan perang paregreg pada abad XV.

Masa majapahit adalah masa kemaritiman sebagai modal dasar dari kerajaan, nelayan, perdagangan.

Namun, dibalik kesejahteraan itu ada sisi gelap di pesisir pantai yang menjadi masa kelam yang dialami kaum perempuan.

Pada masa itu mereka diperlakukan hanya sebagai pelayan kerajaan, pelayan keluarga, pelayan hawa nafsu laki-laki.

Baca Juga : Lakukan Apa yang Menurutmu Baik dan Jangan Lakukan Apa yang Menurutmu Buruk – Oleh Kang Pur

Bahkan, hampir diperlakukan layaknya seperti hewan, selain itu ketika sudah tidak memiliki suami (Janda) akan menjadi ancaman berat baginya.

Hanya ada dua pilihan yang bisa mereka lakukan, ikut terbakar dengan suami atau menjadi pelacur di pesisir pantai.

Melayani pedagang yang datang dari berbagai belahan dunia menggunakan kapal pesiar, untuk meneruskan hidupnya, sebab keadaan tidak mendukungnya untuk memilih pekerjaan selain itu.

Tentu mustahil dia akan menjadi nelayan, atau pun prajurit kerajaan, ditambah lagi janda yang tidak sedia dibakar mengikuti suami yang telah meninggal adalah sesuatu yang hina dalam kultur masyarakat tersebut.

Sama halnya dengan peradaban jahilihan (kebodohan) jajirah arab yang sama sekali tidak menganggap mereka bagian dari manusia.

Bahkan, melahirkannya saja adalah sebuah kesalahan dan menjadi aib bagi orang tua yang melahirkanya.

Akibatnya, perempuan dalam kultur sosial pada peradaban jahilihan sama halnya seperti barang yang yang dapat diwariskan, dan seperti hewan yang bisa diperbudak.

Belajar Dari Masa Silam, Asa dan Kesetaraan

Begitu banyak sejarah yang menunjukan kesakitan perempuan, dan memang sudah waktunya bagi mereka untuk bangkit dalam peradaban yang sudah terang, peradaban ilmu pengetahuan seperti sekarang ini.

Karena pada hakikatnya perempuan dan laki-laki memiliki potensi yang sama untuk berfikir dan mengembangkan sifat intelegensinya.

Membaca dan mendengar apa yang telah mereka alami, maka sangat wajar jika perempuan memiliki kesabaran yang lebih dari laki-laki.

Sekarang, sudah saatnya perempuan harus mempekokoh barisan untuk semangat emansipasi.

Emansipasi tentu bukanlah hal yang hanya diperjuangkan oleh perempuan, laki-laki pun harus turut sadar di dalam emansipasi itu.

Jika perempuan dan laki-laki saling silih (melengkapi) perempuan dengan feminisnya dan laki-laki dengan maskulinnya maka peradaban yang merugikan dari salah satunya tidak akan terulang kembali.

You might also like

Leave A Reply

Your email address will not be published.