Dari Santri Untuk Negri | Nderek Dawuh Abah Kyai

Pluralisme Masyarakat Indonesia Sempat Dirawat Penjajah

61

Pluralisme masyarakat Indonesia ternyata sudah ada dan telah menjadi karaternya sejak zaman dahulu. Meskipun nilai pluralisme masyarakat tersebut mengalami pergeseran seiring zaman.

Tidak kurang hal ini dibicarakan dan dikampanyekan oleh banyak orang di zaman sekarang ini, selain itu sejarahnya juga sudah banyak didokumentasikan dalam buku.

Hanya saja, karena studi atau pendidikan sejarah yang semakin terpojok di ruang-ruang kelas dibawah naungan fakultas atau sekolah, pergeseran nilai pluralisme seperti tidak terkoreksi.

Dibawah ini saya ingin sedikit mengulas tentang nilai-nilai pluralisme masyarakat Indonesia sebagai karakternya sejak masa silam.

Nilai Pluralisme Masyarakat Indonesia dalam Kilas Sejarah

Pertama tentang nilai pluralisme yang disebutkan oleh Thomas Stanford Rafles dalam bukunya The History Of Java.

Ia menyebutkan kalau masyarakat Indonesia memiliki karakter yang ramah, menghormati satu sama lain selagi tidak diusik, tidak tergesa-gesa dan suka bergotong-royong.

Buku tersebut mulai ditulis oleh Thomas pada tahun 1813 sebagai sebuah hasil observasinya di pulau jawa, dan menuliskan tentang pulau jawa mulai dari sosial budaya hingga geografis.

Selanjutnya, dalam sejarah yang lebih lama lagi, yaitu pada masa kerajaan Majapahit, tepatnya pada awal perkembangan agama Islam di pulau jawa yang menunjukan karakter pluralisme masyarakat Indonesia.

Tertulis dalam buku Atlas Walisongo karya Agus Sunyoto yang menyebutkan pertama kali agama Islam masuk yang dibawa oleh Sunan Ampel dan berhasil menciptakan komunitas muslim di tengah-tengah masyarakat hindu.

Meskipun dalam buku sejarah lain disebutkan ada pertentangan dalam faham agama masa itu, tetapi itu hanya terjadi dikalangan tokoh-tokoh pemukanya saja.

Masyarakatnya tetap hidup rukun dan berdampingan meskipun terdapat perbedaan yang sangat mencolok dalam berbagai sisi kehidupan, seperti dalam pakaian dan makanan.

Terakhir, dalam catatan kisah Laksamana Ceng Ho, seorang muslim pemimpin armada terbesar sepanjang sejarah manusia dan berhasil mengelilingi dunia.

Beberapa kali Ia berkunjung ke Nusantara, dan berhasil menemukan masyarakat yang tidak terlalu mempermasalahkan ras dan agama.

Ia menemukan komunitas islam dan hindu berbaur dalam kehidupan sehari-hari, termasuk didalamnya terdapat komunitas china ketika Ceng Ho datang yang kesekian kalinya ke nusantara.

Meski masih banyak buku sejarah yang mencatat hal ini, namun tiga ulasan di atas bisa menjadi acuan yang cukup untuk membuktikan nilai-nilai pluralisme masyarakat Indonesia sejak dulu.

Nilai Pluralisme Sempat Dirawat Belanda

Sejak mulai masuk zaman penjajahan, nilai pluralisme dipandang sebagai suatu keuntungan bagi penjajah ketika sebagian nialinya dikurangi.

Nilai yang dikurangi yaitu nilai kebersamaan, karena ketika masyarakat mampu berbaur dengan siapapun dan tidak alergi dengan perbedaan dapat menjadi individualis ketika tidak dibarengi dengan semangat untuk bersama.

Maka, hal apapun yang mengarah kepada nilai kebersamaan dihilangkan dan faham masyarakat nusantara mulai dipecah-pecah melalui para sesepuh atau tokoh dan raja-raja.

Akhirnya diciptakanlah sistem tata negara yang memanfaatkan asisten residen di daerah-daerah, di mana tokoh atau sesepuh tetap menjadi pemimpin daerah hanya berada di bawah atau dalam cengkraman asisten residen.

Sistem ini yang kemudian dikritik oleh Edward Dowes Deker, seorang belanda yang mendukung pribumi nusantara melalui novelnya yang fenomenal berjudul Max Havelar.

Selain itu, hal ini pula yang menjadi awal dan sebab belanda dapat menjajah nusantara dalam waktu yang sangat lama hingga berabad-abad.

Tentang pluralisme masyarakat Indonesia yang sudah bercampur dengan individualis akhirnya dicatat juga oleh J.S. Furnivall dalam buknya berjudul Netherlands India (Hindia Belanda, 1913).

Dalam buku tersebut disebutkan kalau masyarakat plural di hindia belanda (nama nusantara pada masa penjajahan), sangat mengkhawatirkan.

Hal itu di karenakan keadaan masyarakat yang sudah tidak mau berbaur kecuali di pasar, tidak ada kebersamaan dalam bidang sosial terlebih dalam hal politik dan akan berbahaya di kemudian hari.

Masih Terawat Beserta Nilainya yang Kurang

Apa yang disebutkan Furnivall ternyata terbukti dalam sejarah kebangkitan nasional, bahwa hilangnya semangat kebersamaan dalam bidang sosial dan politik merupakan hambatan utama kemerdekaan.

Oleh karena itu, masa kebangkitan nasional merupakan proses membangun kesadaran secara menyeluruh untuk bangkit dan melawan penjajah.

Hingga akhirnya semangat kebersamaan dalam pluralisme masyarakat Indonesia sempat dihidupkan kembali pasa masa itu hingga Indonesia merdeka.

Namun semua itu sepertinya hanya bertahan sampai beberapa tahun setelah merdeka, karena pada rentan waktu 1950 – 1960 Indonesia sempat terpecah kembali.

Kekuasaan seakan-akan terbagi menjadi tiga, yaitu di pulau jawa, Kalimantan dan sumatera dengan pandangan dan gerakan yang berbeda-beda, semangat kebersamaan pun hilang kembali.

Dan sangat disayangkan hal itu masih terawat hingga sekarang, tentang ini ditulis oleh seorang sarjana Sejarah dan Ahli Filsafat bernama Amin Mudzakkir.

Dalam tulisannya di situs alif.id yang berjudul “Pluralisme Tanpa Kehendak Bersama” ia menyayangkan masyarakat Indonesia yang plural masih terpisah – pisah.

Masing-masing kelompok sosial memiliki kehendak sendiri-sendiri di mana satu sama lainya saling bertentangan.

Bahkan Ia menyebutkan kalau pluralisme masyarakat Indonesia saat ini menjadi sesuatu yang harus diatasi.

Tampaknya itu berawal dari kekecewaan terhadap keadaan di mana kebanyakan orang semakin acuh terhadap sesamanya di negara yang semakin kelabu, yang kaya semakin kaya dan yang miskin semakin miskin.

Pada akhirnya saya berpendapat kalau pluralisme masyarakat Indonesia masih terawat pada kondisi nilainya yang kurang, dan jika diteruskan berarti kita telah menjajah diri kita sendiri.

You might also like

Leave A Reply

Your email address will not be published.