Dari Santri Untuk Negri | Nderek Dawuh Abah Kyai

Puasa, Corona dan Hawa Nafsu Kita

52

Puasa, Corona dan Hawa Nafsu Kita (Oleh: Aji Muhammad Iqbal), Banjar, 29 April 2020

Dalam sebuah kisah, Nabi Muhammad SAW selepas pulang dari medan peperangan, baginda Nabi Muhammad SAW sempat berucap kepada para sahabatnya.

“Kita semua baru saja pulang dari perjuangan jihad yang sangat kecil, dan akan kembali menuju medan pertempuran dengan perjuangan jihad yang lebih besar.”

Namun ucapan nabi Muhammad SAW membuat sahabat yang membersamainya tercengang. Para sahabat merasa kebingungan karena perjuangan di medan pertempuran yang baru saja mereka lalui dengan berdarah-darah,

ramadhan 2020 lazada

oleh baginda Nabi masih disebut sebagai perjuangan jihad yang sangat kecil. Tidak lama dari kebingungan itu, para sahabat langsung menggulirkan pertanyaan kepada baginda Nabi.

“Sebenarnya apa yang dimaksud dengan perjuangan jihad yang lebih besar itu, ya Rasulullah?”, tanya Sahabat Nabi.

Tak lama kemudian, Nabi Muhammad SAW berusaha menjawab pertanyaan tersebut, “Maksud dari jihad yang lebih besar itu adalah perjuangan jihad dalam melawan hawa nafsu,” jawab Nabi.

Hawa Nafsu, Puasa dan Corona

Dalam kisah tersebut, sabda baginda nabi seolah tak pernah sirna oleh waktu, tak pernah lapuk oleh hujan, dan tak pernah lekang oleh panas. Sabda itu terus bergulir dari zamannya hingga sampai saat ini.

Nabi Muhammad SAW jauh-jauh hari telah mengingatkan kepada umatnya agar tidak terkecoh dan terjebak oleh hawa nafsu. Hawa Nafsu ini seperti jelangkung, datang tak dijemput pulang tak diantar.

Ia bisa menguasai dan mengendalikan nafsu manusia kapan saja dan di mana saja tanpa pandang bulu. Entah itu rakyat kecil, pengusaha, polisi, tentara, para politisi, bahkan kyai sekalipun.

Saat Gus Dur memberikan pengantar dalam buku Illusi Negara Islam, dalam pengantarnya yang berjudul Musuh Dalam Selimut, Gus Dur menerangkan hadits tersebut dengan perumpamaan dua jenis watak manusia.

Menurutnya, manusia yang telah mampu melewati goda’an nafsunya, serta telah mampu mengendalikan nafsunya dengan alasan agar dapat memberikan kemanfaatan kepada siapapun.

Mereka itulah yang hatinya selalu tenang dan damai karena ditemani nafsu muthmainnah.

Sedangkan mereka yang pribadinya selalu gelisah dan tak henti membuat gelisah pada orang lain, selalu membuat masalah dan kerusuhan sosial, mereka itu yang hatinya dikuasai oleh nafsu lawwamah.

Di bulan puasa seperti sekarang ini, selain dituntut untuk lihai mengendalikan hawa nafsu, kita juga harus kuasa menahan lapar dan dahaga.

Apalagi puasa tahun ini, cobaan berat yang dihadapi bangsa kita adalah puasa ditengah wabah Corona.

Baca Juga : Panduan Ibadah Ramadhan dan Idul Fitri di Tengah Wabah Corona

Shalat Jum’at dilarang, acara pernikahan dilarang, acara-acara keagamaan atau acara yang mengundang banyak orang tidak boleh dilaksanakan, sekolah diliburkan, santri-santri yang berada di pesantren dipulangkan, bahkan melaksanakan tarowih pun harus tetap di rumah.  

Terlepas dari siapa yang membuat virus menyebalkan itu, yang jelas virus tersebut memiliki daya rusak yang sangat dahsyat.

Selain mematikan, Virus Corona telah merusak sendi-sendi kehidupan, salah satunya  melumpuhkan kondisi ekonomi masyarakat Indonesia.

Entah sampai kapan wabah Corona ini akan berakhir. Jika virus ini masih tetap bertahan sekitar 3-6 bulan lagi, kata Ibu Sri Mulyani, Menteri Keuangan RI, situasi ekonomi bangsa kita akan memburuk. Naudzu billahi min dzalik.

Berbagai upaya pemerintah telah dilakukan untuk melawannya. Diantaranya  dengan himbauan menggunakan masker, stay at home ditambah lagi dengan social distancing atau physical distancing hingga bantuan sosial untuk membuat tersenyum dan gembira serta menghapus luka batin rakyatnya.

Meski pemerintah sudah mulai menggulirkan bantuan sosial dari mulai berbentuk bantuan tunai sampai bantuan non tunai seperti sembako untuk keberlangsungan hidup masyarakat, namun wabah Corona tak kunjung reda.

pasien positif Corona terus berdatangan, begitu pun dengan angka kematiannya, tentu menjadi kekhawatiran bersama.

Perang Melawan Hawa Nafsu

Melawan Virus Corona memang bukan perkara mudah. Butuh optimisme dan kesabaran ekstra menghadapinya.

Dalam kondisi sekarang ini, melawan Corona seperti perang berhadapan dengan diri kita sendiri, yaitu jihad melawan hawa nafsu.

Persamaanya karena perang melawan hawa nafsu dan Corona sama-sama seperti perang melawan musuh tak berwujud. Musuh itu bisa menyerang, menusuk dari belakang, depan, samping dan atas kita, tanpa kita mengetahui medan perangnya.

Bahkan, senjata untuk menghadapinya pun bukan dengan pistol, pedang, pisau, tombak, meriam, bahkan bom.

Tentu perang dengan kondisi ini sangat berat, bahkan bisa keteteran menghadapinya. Itulah mengapa, nabi menyebut perang melawan hawa nafsu sebagai jihad yang lebih besar.

Pertempuran fisik di medan peperangan konsekuensinya hanya dua, jika tidak membunuh musuh, kita akan terbunuh. Berbeda dengan perang melawan hawa nafsu, musuh utama kita tak lain hanyalah nafsu.

Dan melawan nafsu, tidak boleh misalnya dibunuh dengan meriam dan bom, bisa mati kita. Melawan nafsu cukup berjuang untuk berusaha menjinakannya.

Moment puasa ini merupakan peluang besar untuk perang melawan musuh tersebut. Substansi dari puasa, tak lain melatih kita melawan nafsu yang sangat susah terkendali.

Melawan hasud, dengki, kebiasaan membicarakan keburukan orang lain, kebiasaan menyepelakan, berpoya-poya, memonopoli kebenaran, dan watak selalu ingin paling benar sendiri.

Begitupun dengan melawan Virus Corona, bulan puasa ini sebenarnya adalah kesempatan emas untuk berusaha memutus mata rantai wabah Corona.

Perjuangan Bersama Melawan Kesulitan Pandemi

Selain bulan yang sakral karena mustajab doa, bulan ramadhan juga dimaknai sebagai bulan perjuangan (syahrul jihad), sebagaimana yang diungkapkan oleh Kyai Said Aqil Siradj. Artinya perjuangan kita, jangan pernah surut.

Karena Virus Corona masih belum ada penangkalnya, salah satu strategi untuk melawannya adalah dengan mencegahnya.

Pencegahan tersebut yang kadang banyak orang masih bingung dengan cara apa, meski himbauan pemerintah telah berulangkali mengingatkannya.

Sebenarnya sederhana, mencegah Virus Corona cukup dengan melawan dan berusaha menjinakan hawa nafsu kita sendiri.

Salah satunya melawan hawa nafsu untuk tidak menyepelekan himbauan pemerintah, tidak merasa kuat diterpa badai wabah Corona.

Melawan nafsu agar bisa bersabar bertahan di rumah, melawan nafsu agar menjaga jarak dan tidak berkerumun dengan banyak orang, serta melawan nafsu agar tetap selalu waspada.

Badai cobaan ini akan segera berlalu, asalkan tumbuhkan kesadaran dimulai dari diri kita sendiri.

Mari kawan-kawan, dengan wajah yang berseri-seri, lawan Corona dengan melawan hawa nafsu kita untuk tetap di rumah sebentar saja dan naik tensi kesabaran, sedikit saja. Wallahu A’lam bi ash-Showab

*)Penulis adalah Santri Pondok Pesantren Miftahul Huda Al-Azhar Citangkolo Kota Banjar Jawa Barat.

You might also like

Leave A Reply

Your email address will not be published.