Dari Santri Untuk Negri | Nderek Dawuh Abah Kyai

Sekedar Tentang Nasionalisme

20

“Harus Mencintai dan Berbakti Terhadap Negara” adalah MITOS tapi, dilahirkan, dibesarkan dan atau hidup di negara, serta keluarga, teman bahkan mungkin keturunan adalah kenyataan.

Pengertian terkadang bisa berubah, seperti halnya mengartikan Negara, kadang mitos merubahnya atau karena makna yang tidak diwariskan.

Misal, Anggap lah saya berfikir Negara adalah Pemerintah, jika seseorang menyuruh saya mengabdi dan berbakti terhadap negara, maka, terhadap siapa saya akan mengabdi dan berbakti?

Atau, Anggaplah seseorang sedang berbicara tentang negara, Syarat terbentuknya negara adalah adanya Pemerintahan yang diakui, Daerah dan Rakyat.

Dalam Negara Demokrasi, Pemerintah menjalankan amanah rakyatnya dan memanfaatkan segala sumberdaya yang ada, sesuai wewenang yang dimiliki dan kelayakannya untuk kesejahteraan rakyatnya.

Maka saya berfikir, betapa hebat pemerintah, bak pahlawan yang merelakan hidupnya untuk jutaan manusia, atau seperti tuhan yang menanggung hidup manusia.

Bukankah mitos pengabdian dan teori negara itu terlihat bodoh, mana peran rakyat, saya kira rakyat bukan hanya syarat, dan bagaimana saya bisa senang ketika tidak dianggap.

Bagaimana orang lain terus-menerus menyuruh saya mengabdi dan berbakti, bukankah “dalam bagian sederhana” merawat keluarga, teman dan berusaha hidup dengan keringat sendiri adalah pengabdian dan bakti.

Kenapa sekumpulan orang sok menjadi pahlawan dihadapan sisa manusia lainnya, kalau harapannya adalah maju, bukankah negara ini milik bersama atau nasionalisme memang sudah menjadi alat kekuasaan supaya, melalui “kesadaran”, sekelompok orang bisa menguasai jutaan lainnya.

You might also like

Leave A Reply

Your email address will not be published.