Dari Santri Untuk Negri | Nderek Dawuh Abah Kyai

Sunyi di Jalan Kesunyian, Kamukah Itu?

37

Sunyi dan jalan kesunyian, tempat orang singgah ketika lari dari kalutnya bumi, Ya hanya jalanan sunyi di balik ramainya bumi.

Ingatkah kamu pada kata-kata seorang sufi atau pada puisi-puisinya, siapapun mereka, tidakah kamu merasakan hening dan kesungyian di setiap bait puisinya, di setiap rima yang meliuk saat bertemu koma.

Ya  gubahan kata itu, puisi-puisi temannya pilu, yang deretan dan rimanya kamu cari saat dunia seakan sedang menghancurkanmu, ya itulah jalan kesunyian, lalu kamu pergi kembali ke kalut dan keramaian.

Mereka tidak menggubah puisi atau merangkai kata karena kalutnya bumi, tapi, kalut sudah menjadi denyut nadinya, ramai sudah menjadi sari pati dari makanannya dan sunyi sudah menjadi dirinya sendiri.

Apa setiap hari kamu menyadari, rasa dari denyut nadi atau nikmat dari sari pati makanan yang kamu makan?, aku yakin tidak, kamu merasakan manfaat tanpa kesadaran, ya itulah jalan kesunyian, Itu pula jalan mereka yang berjalan di bagian paling depan, seperti pejuang yang teguh pendirian.

Mereka adalah Sunyi Penghuni Jalan Kesunyian

Mungkin setiap saat mereka menatap bumi, bukan dengan tatapan kosong, mereka menatap sampai ke dalam jiwanya dimana kalut dan ramai menjadi satu di dalamnya.

Sebentar aku bertanya-tanya, tentang arti hidup bagi mereka yang setiap harinya ada di jalan kesunyian, merasakan sendiri kalut dan ramai di sana.

Mungkin kamu tidak merasakan, saat kamu membutuhkan kesunyian, butuh sesuatu yang hening dan menenangkan atau sedang mengharapkan sesuatu yang kamu inginkan tercapai.

Tapi kamu sudah sangat lelah, kemudian kamu datang kepada mereka, entah untuk kesunyian atau untuk harapan, dengan sendirinya mereka berbagi, bahkan terkadang tanpa kemauannya sendiri.

Bukan karena tidak mau berbagi, tetapi jalan kesunyian adalah milik semua orang, begitupun dengan harapan, tapi tidak semua orang merawat jalan itu supaya tetap sunyi, dan harapan itu supaya tetap hidup.

Lalu mereka berbagi, berbagi kesunyian atau harapan yang telah mereka rawat dan mereka hidupkan, seberapa butuhpun mereka datang, bahkan sampai habispun kamu akan dapatkan.

Andai kamu datang sebagai orang serakah, yang mengiginkan semua kesunyian dan semua harapan, kamu akan mendapatkannya.

Baca Juga : Perempuan – Oleh Kang Pur

Setelah kesunyian dan harapan kamu dapatkan, kamu akan pergi, membawa apa yang kamu dapatkan kembali munuju kalut dan keramaian.

Sempatkah waktu sebelum kamu pergi bertanya kepada mereka, “Apa yang akan kamu lakukan sekarang?, setelah semua yang kamu miliki, kamu berikan padaku,”. Ini juga pertanyaanku.

Andai saja pernah, kamu tidak akan mendapat jawaban, tidak akan seperti pertanyaanmu sebelumnya, pertanyaan lelah dan hancur yang terus berjawab berapapun itu.

Tapi kali ini tidak, tidak tentang itu, karena kamu bertanya pada sunyi dan harapan, yang semuanya adalah kesunyian saja.

Andai kamu orang yang berusaha mengerti dan dengan resah terus bertanya karena usahamu itu tentang “mengerti”, sekedar jawaban mungkin akan kamu dapatkan.

“Aku akan membuat lagi sunyi dan harapan, akan merawatnya supaya tetap menjadi seperti itu, untuk setiap orang yang datang kepadaku, untuk setiap orang sepertimu, jangan bertanya lagi kenapa, Kamu sudah tahu, akulah sunyi itu.”

Atau, apa Kamu Sunyi? Orang di Jalan Kesunyian

Jika benar, atau kamu merasa benar, aku ingin bertanya padamu, mungkin kamu bagian dari tulisan ini, aku rasa, mungkin sulit untuk orang seperti kamu ketika pertama kali menjadi sunyi, atau pertama kali bertemu dengannya, apakah benar?.

Aku tidak tahu banyak, tidak lebih dari yang aku tuliskan, dan satu paragraf pertanyaan setelah ini, kalaupun ini tentang kamu atau kamu merasa tentang kamu, tolong jawab pertanyaanku.

Bahwa di samping menyamping jalan kesunyian tertuliskan kata-kata diatas kertas yang tidak bisa kamu pegang apa lagi kamu buang.

“Jangan dekati orang ketika sedang tersenyum dan bahagia, baik ramai ataupun kalut, kamu bukan teman, sahabat, apalagi keluarga,”

“Kamu adalah sunyi, yang hanya akan berbagi kesunyian kepada sekitarmu, bahkan tanpa dimintanya, kamu adalah sunyi, yang hanya merusak ketika menciptakan kesunyian diantara orang yang tidak membutuhkan, kamu adalah sunyi, yang ada hanya untuk kesunyian.”

Apakah itu benar? Jawablah, karena, aku sedang di depan gerbang jalan itu, aku takut dan ragu, tapi aku ingin pergi ke sana, setidaknya untuk menemanimu, Sunyi.

You might also like

Leave A Reply

Your email address will not be published.