Dari Santri Untuk Negri | Nderek Dawuh Abah Kyai

Tatkala Hujan dan Bunga dalam Lamunan

51

Tatkala hujan berjatuhan di atas bunga yang sedang menari-nari, sepasang kaki menenggarai, memamah lalu melangkah sampai lumat tarian dan senyuman.

“Kamu bukan cerita”, kataku pada bunga yang sedang murung, “kamulah hari tanpa senja, tak punya keheningan yang karena itu pula kamu tak bertemu fajar,”.

Akulah si pelangkah, yang menciptakan jarak melalui hening untuk menjemput pagi, sinar hangat yang menghangatkan rindu dan sepi.

“Hari, tentang cerita antara pagi hingga bertemu lagi pagi, hingga hari bertemu hari, sampai hati bertemu hati.” lanjutku tanpa kulihat lagi murung dan lusuh bunga yang hampir mati.

Kulihat sekeliling, baru tersadar sedang berada di padang ilalang dan bunga yang ramai, kulihat orang-orang sedang berjalan, merangkak bahkan tersungkur.

“Orang, mereka orang bukan bunga, kemana aku selama ini, setidaknya jiwa dan fikiranku, kemana diriku pergi. bukan, mereka bukan bunga yang indah dan harum, mereka manusia sesungguhnya, hanya di antara bunga dan ilalang,”.

“Hujan?” Ternyata semua yang ada padaku telah basah, baru kusadari juga, entah hujan atau air mata tak bisa dibedakan, “menangis?, ahh benar, aku sudah basahi diriku sendiri, dengan sesuatu yang tidak ku ketahui,”. fikirku terus bertanya-tanya.

Kenapa seperti itu, orang-orang itu, ada yang berjalan sambil tersenyum atau tertawa, ada yang menangis, menjerit dan gelisah, tapi mereka terus tetap berjalan, apa yang membawa mereka seperti itu.

Seperti aku ini, tetap berjalan tanpa tahu apa yang sebenarnya membuatku basah dan lebih basah, apa yang membuatku tak ingat betapa ramai perjalanan ini, “ahh, rumit sekali, capek sekali rasanya.”.

“Mas-mas kopinya dijual kan?, saya mau pesen,” aku terperanjat, seorang perempuan cukup manis dengan muka bingung dan gugup sudah ada di depanku, sontak kujawab seperti refleks.

“iya… iya mbak dijual, ini menunya mbak silahkan dipilih mbak,” kataku seperti tanpa dikendalikan fikiran, senyum keluar tanpa kesadaran, “gak nyaman sekali,” fikirku.

“eemm, apa aja deh mas, tapi yang pahit ya,” katanya sambil senyum, seperti membalas senyumku. “mbaknya suka kopi pahit juga,” tanyaku riang berusaha mencairkan suasana.

“semuanya juga bisa pahit mas, tapi semuanya juga bisa manis, atau bisa aja berubah jadi rasa lain, hanya lidah orang sudah terbiasa dengan apa yang dikatakan rasa manis dan rasa-rasa lain sesuai framenya. soal rasa itu tentang cara menikmati mas,” seperti sudah hafal Ia berkata-kata, masih dengan senyum, lebih lebar hanya agak mengelitik.

“wah, kata-kata pecinta kopi nih, siap mbak, silahkan duduk ada kopi yang pastinya enak buat mbak,” kataku menyambut senyum, hanya, berbeda dengan yang ada di fikiran.

Fikirku berlainan arah, “kenapa dia seakan tahu fikiranku sedang rumit, sedang tidak jelas,” – “tadi aku manggil-manggil masnya beberapa kali tapi nggak dijawab,” katanya seperti memotong aliran kata di fikiranku, tanpa melihatku, dengan senyum yang tambah menggelitik.

Dengan sedikit malu kujawab, “he he.. Iya mbak maaf” – “tinggal cara menikmatinya aja kayanya, kopi yang mas buat juga pake racikan dari masnya, cerita itu juga ada yang meracik dong,” aliran kata-kataku semakin terbendung, kata-katanya menelisik dengan tenang, kujawab dengan heran “maksudnya mbak?”, masih dengan senyum.

“bercita-citalah, tapi jangan lupa menikmati yang ada, itu mas maksudku.” senyumnya berubah menjadi manis, aku tersipu dan malu, kenapa Ia seakan mengerti apa yang terjadi tentang bunga dan hujan.

Cerita dalam fikiranku, Tatkala hujan membasahi aku dan bunga, tatkala hujan membuat keduanya menjadi murung, kenapa Ia seakan tahu dan merasakan.

Fikiranku melayang, meninggi, kemudian jatuh tersadarkan. “bunga masih segar depan rumah, orang-orang sedang beraktivitas seperti biasa di sore hari, waktu masih berjalan dan orang masih berusaha meski hujan,”

“Yahh..yahh.. ini tentang cara, semua orang itu dan bagaimana mereka, benar semua tentang cara. Bayangan…? dari tadi….?. Ahhh aku memang melamun.” fikirku sambil mengantarkan kopi, “terimakasih mbak.” kata dengan senyum berbalas senyum, “manis sekali rasanya”.

You might also like

Leave A Reply

Your email address will not be published.